Oleh: Dr. Drs. H. Hari Suderadjat, M.Pd.

Keluarga adalah unit-unit terkecil dari mayarakat. Membangun karakter bangsa sebagai pondasi bagi pembangunan nasional dimulai dari pembangunan karakter dalam keluarga. Bagi umat Muslim ada beberapa landasan teologis yang dapat dijadikan pedoman dalam membangun karakter keluarga. Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, menjadi hamba-Nya atau abdi-Nya (Abdullah) [QS.Adz-Dzariyaat (51): 56]. Bagaimana cara manusia mengabdi kepada-Nya?

Dalam kehidupannya manusia harus selalu mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring, kemudian memikirkan seluruh ciptaan-Nya agar memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dimanfaatkannya dalam kehidupan, bagi kesejahteraan dirinya dan keluarganya serta mensejahterakan masyarakat dan lingkungannya [QS. Ali ‘Imran (3): 191].

Mengapa manusia harus dapat mensejahterakan masyarakat dan lingkungan? Karena manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin dimuka bumi [QS Al-Baqarah (2): 30], yang akan diminta pertanggungjawaban kepemimpinannya kelak. Seluruh perilaku manusia dimuka bumi harus merupakan pengabdian kepada-Nya, mengikuti perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya, dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupannya, agar menjadi sosok Muttaqien [QS. Al-Baqarah (2): 2].

Apabila manusia berperilaku sesuai dengan berpedoman pada Al-Qur’an, bukankah ia telah berperilaku berdasarkan nilai-nilai Al Qur’an? Bukankah ia telah berakhlak mulia? Bukankah ia telah berperilaku seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW? Karena tugas Rasullulah Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak, sesuai sabdanya: “Tiada aku diutus kemuka bumi kecuali untuk menyempurnakan akhlak”. Akhlak mulia adalah perilaku hamba Allah (Abdullah) yang bertaqwa kepada-Nya (Muttaqien) yang akan mendapat hadiah surga, sesuai sabdanya bahwa: “Yang membanyakkan orang masuk syurga adalah ketakwaan dan akhlak mulia”.

Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, dalam keluarga, semua suami dan istri adalah pemimpin (Khalifah), yang akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Ayah dan ibu di rumah, diberi tugas oleh Allah SWT untuk memberdayakan anak-anaknya menjadi Abdullah calon Khalifah masa depan. Bagaimana profil sosok Abdullah? Yaitu mereka yang segala perilakunya dimuka bumi hanya berdasarkan atas perintah-Nya dan selalu menghindari larangan-Nya (Muttaqien). Yaitu sosok manusia yang berpribadi integral, memiliki nilai-nilai keimanan (Mu’min) sebagai landasan berperilaku dalam kehidupan (berakhlak mulia). Darimana kita mulai membangun generasi Abdullah? Mulai dari keluarga.

Pendidikan Karakter dalam Keluarga

Karakter seseorang tergambar dalam ucapan dan tindakannya dalam menghadapi situasi dan kondisi lingkungan kehidupan, berdasarkan sistem nilai yang dimilikinya (value system) dan kerangka konsep berpikirnya (mind set). Akhlak mulia yang di unjukkerjakan seseorang (performance) adalah ucapan dan tindakan seseorang yang berlandaskan kepatuhan kepada perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya (Muttaqien) yang berintikan nilai-nilai keimanan (Aqidah) kepada Penguasa Alam Semesta.

Dari definisi ini, kita mendapat pola bagaimana membangun karakter dalam keluarga, yaitu sejak bayi dalam kandungan ibunya, karena ibunya sudah dapat “mendidik” bayi dalam kandungan untuk menjadi sosok Mu’min. Mengapa? Karena pada dasarnya manusia diciptakan dengan perjanjian (Aqidah) di alam ruh bahwa Allah SWT adalah Tuhannya. Pada usia 0 – 2 tahun anak-anak berada pada fase membangun dunia kognisinya dengan memberdayakan semua panca indranya. Berilah mereka benda-benda dan suara yang memiliki nilai-nilai keimanan. Dan selanjutnya pada usia 2 – 4 tahun didiklah mereka dengan kalimah Toyyibah dan do’a-do’a pendek sehari-hari, yang akan berlanjut dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak-anak di lembaga PAUD akan belajar untuk selalu “mengingat Allah” melalui belajar do’a sehari-hari dalam bahasa Arab yang dilatihkan dengan maknanya. Mereka dilatih untuk selalu “berkomunikasi” dengan “Sang Pencipta” agar dapat membangun Qalbun Salim (qalbu yang selamat). Mengapa ? Karena Rasulullah SAW bersabda: “Ingat, bahwa di dalam jasad manusia ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu beres, bereslah keseluruhannya, apabila rusak, rusaklah keseluruhannya. Ingat, bahwa dia itu adalah qalbu”.

Membangun generasi muda berkarakter atau berakhlak mulia, dimulai dengan membangun generasi Mu’min, yaitu generasi yang memiliki Aqidah (perjanjian) dengan Tuhannya, sehingga mereka dalam mengarungi waktu kehidupan menjadi orang-orang yang beruntung [QS. Al’ Ashr (103): 3]. Selanjutnya, didiklah mereka menjadi sosok Muslim yang Kaaffah (berpribadi integral) [Qs. Al-Baqarah (2): 208], yang banyak beramal shalih (berakhlak mulia) agar terhindar dari neraka Safilin [Qs. At Tiin (95): 6]. Itulah langkah-langkah pendidikan karakter atau akhlak mulia di dalam keluarga. Karena sebenarnya Allah SWT menciptakan manusia dengan kesucian-Nya [QS. Ar Rum (30): 30].

Pendidikan Karakter , Peran Sekolah dan Orangtua

Sejak usia 6 tahun, anak-anak sudah mulai masuk SD. Sekolah yang harus berperan sebagai Pusat Pembangunan Masyarakat (Social Development Center) mulai melatih siswanya dengan Shalat Khusyu‘, sesuai dengan yang dicontohkan Rasullulah Muhammad SAW. Berdasarkan sabdanya: “Perintahkanlah anak-anakmu shalat sejak usia 7 (tujuh) tahun”. Mengapa harus sejak kecil? Agar shalatnya beres, baik dan benar, agar hidupnya bahagia, sesuai sabdanya: ”Apabila shalatnya beres (baik) maka bahagialah ia dunia dan akhiratnya, apabila shalatnya rusak, rusaklah semuanya”.

Bagaimana shalat yang beres itu? Yaitu shalat yang dilaksanakan dengan Khusyu’ yang diaplikasikan dalam kehidupan dalam bentuk akhlak mulia, seperti yang dicontohkan rasul, yang berdampak pada Rahmatan Lil ’Alamin. Dalam pembangunan karakter generasi muda, sekolah harus berfungsi sebagai Pusat Pembangunan Karakter Bangsa yang berperan bersama orangtua. Dengan demikian semua guru harus berfungsi sebagai Pendidik Pembangun Karakter generasi muda dan masyarakat lingkungan.

Peran guru dalam sekolah yang berfungsi sebagai Pusat Pembangun Karakter Bangsa merupakan usaha Pemerintah melalui reformasi pendidikan yang tercantum dalam Undang-undang No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai Landasan Pendidikan Berbasis Kompetensi yang Mencerdaskan, Kompetitif, Produktif dan Berakhlak Mulia.

Perguruan Ar Rafi’ telah mulai melaksanakannya sejak Tahun 2004 melalui SD Ar Rafi’ di Bandung, SD Ar Rafi’ Baleendah (Kab.Bandung) dan sejak Tahun 2015 di SD Ar Rafi’ BHS.

Manfaat Membangun Abdullah calon Khalifah

Semua umat Muslim tidak akan lupa dengan do’a sehari-hari, yaitu: “Ya Tuhan kami berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia, dan kebahagiaan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari api neraka”. Do’a ini tidak akan terkabul tanpa kita sendiri mengupayakannya [Qs An Nazm (53): 39]. Apa upaya kita yang paling meyakinkan keberhasilannya? Berinvestasi dalam membangun generasi muda menjadi Abdullah yang Khalifah. Mengapa? Mereka yang berhasil menjadi pemimpin, akan mendapatkan pendapatan yang lebih besar dari orang-orang yang dipimpinnya, dan sebagai Abdullah, mereka akan menyayangi orangtuanya di dunia dan akhirat. Di dunia mereka akan menjadi “jalur pensiun” dari Allah SWT Yang Maha Kaya, dan setelah orangtuanya meninggal, mereka tidak akan menjadi jalur pahala bagi orangtuanya, sehingga orangtuanya mendapatkan kebahagiaan di akhirat, dan terhindar dari api neraka, Aamiin.

Bandung, 13 Agustus 2016
Disampaikan dalam Seminar: Pentingnya Peran Pendidikan Karakter Keluarga Bagi Pengembangan Karakter Bangsa Sebagai Pondasi Pembangunan Nasional
Gambar: http://www.pendidikankarakter.com/macam-macam-kepribadian-anak/